Hipnotis Bukanlah Sihir

Ini adalah salah satu pertanyaan yang ditanyakan oleh seorang pengunjung Zona Hypnosis. Anda mungkin memiliki pertanyaan yang sama. Oleh karena itu, pada postingan kali ini kami akan memberikan sebuah penjelasan singkat mengenai pembelajaran hipnosis. Semoga bermanfaat.

Ada banyak orang yang ingin belajar hipnosis, meskipun mereka sendiri ragu jika mereka bisa menghipnotis atau dihipnotis. Bahkan, orang yang tidak percaya dengan hipnotisme pun seringkali ingin belajar hipnotis. Juga, tidak sedikit orang yang belajar hipnosis namun “gagal” menghipnotis orang lain atau menghipnotis diri sendiri.

Seperti mempelajari hal lainnya, pembelajaran hipnosis dilakukan melalui tahapan yang berstruktur. Artinya, pembelajaran hipnosis itu tidak bersifat acak namun berjenjang. Berikut ini penjelasan struktur pembelajaran hipnosis. Dengan mengetahui struktur pembelajaran hipnosis ini, Anda bisa belajar hipnosis secara otodidak.

Memahami Arti Hipnosis dan Fungsinya

Untuk bisa mempelajari dan menguasai hipnosis, Anda harus tahu apa itu hipnosis dan apa yang bukan hipnosis serta apa yang bisa dilakukan melalui hipnosis dan apa yang tidak bisa dilakukan melalui hipnosis. Hipnosis itu sendiri memiliki beberapa arti, yakni hipnosis sebagai sebuah kondisi kesadaran dan hipnosis sebagai sebuah proses.

Sebagai sebuah kondisi kesadaran, hipnosis adalah kondisi dimana pikiran dan perasaan kita hanya tertuju pada satu objek. Objek tersebut bisa bersifat eksternal (sesuatu yang berada di luar diri kita: titik, lilin, pendulum, bola, dan sebagainya) atau internal (sesuatu yang berada di dalam diri kita: emosi, objek imajinasi, napas, sensasi pada tubuh, dan sebagainya). Kondisi pikiran dan perasaan yang terfokus itu dibarengi dengan sensasi relaksasi fisik dan mental pada kedalaman tertentu. Oleh karena pikiran dan perasaan kita terfokus pada suatu objek, kita pun cenderung mengabaikan hal-hal lain selain objek tersebut. Kondisi ini kemudian disebut sebagai trance. Dalam kondisi trance, kita tidak terlalu kritis. Artinya, tingkat penerimaan sugesti menjadi tinggi sehingga pikiran kita bisa menerima dan memroses sugesti tanpa hambatan yang signifikan. Kata kunci yang perlu anda pahami dan pelajari lebih lanjut adalah trance.

Sebagai sebuah proses, hipnosis adalah proses untuk menggiring seseorang (atau diri sendiri) menuju kondisi trance. Tindakan untuk menggiring seseorang menuju kondisi trance disebut dengan induction. Ada sekian banyak teknik induksi yang dapat diterapkan untuk membawa seseorang menuju kondisi trance (baca: menghipnotis seseorang). Namun perlu dipahami bahwa tidak ada satu pun teknik induksi yang bersifat universal atau dapat diterapkan pada semua orang. Teknik induksi yang digunakan harus sesuai dengan latar belakang orang yang akan dihipnotis. Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan teknik induksi apa yang harus digunakan pada seseorang adalah: tingkat sugestibilitas, indera dominan (visual, auditory, kinestetik), hemisfer dominan, dan tujuan hipnosis. Orang-orang memiliki tingkat sugestibilitas yang berbeda-beda; ada yang tinggi, ada yang moderat, dan ada yang rendah. Orang-orang juga memiliki indera dominan yang berbeda-beda. Misalnya, seorang musisi cenderung auditori dan seorang fotografer cenderung visual. Kemudian, yang dimaksud dengan hemisfer dominan adalah belahan otak yang lebih banyak beraktivitas. Misalnya, seorang akuntan memiliki hemisfer kiri lebih dominan (karena pekerjaan sehari-harinya adalah menghitung) sementara seorang seniman memiliki hemisfer kanan lebih dominan. Hal yang terakhir adalah tujuan hipnosis itu sendiri. Jika aksi hipnosis bertujuan untuk sekadar “bermain” maka teknik induksi yang digunakan pun berbeda dengan tujuan terapetik (untuk terapi). Kata kunci pada bagian ini adalah induction dan suggestibility level.

Hipnosis memiliki sejumlah besar fungsi seperti mengelola berat badan (hypnoslimming), mengelola rasa sakit (pain management), mengelola kebiasaan (habit management), terapi gangguan psikosomatis (hypnotherapy), mengelola informasi tersembunyi (forensic hypnosis), dan masih banyak lagi. Namun semua tujuan ini bersumbu pada satu tujuan utama, yakni perubahan di dalam pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar mengendalikan atau mengontrol banyak hal dalam kehidupan kita sehingga berbagai masalah dalam pikiran bawah sadar sangat memengaruhi kehidupan kita dalam berbagai aspek. Hipnosis telah diketahui merupakan teknik yang paling efektif dan efisien untuk mencapai perubahan di tingkat bawah sadar. Kata kunci pada bagian ini adalah subconscious mind.

Hipnosis bukan sihir yang menggunakan mantra-mantra. Hipnosis juga tidak dapat digunakan untuk membuat seseorang melakukan hal yang tidak ingin dilakukannya.

Mempelajari Protokol Hipnosis

Ini merupakan unsur kedua dalam pembelajaran hipnosis. Hipnosis (sebagai sebuah proses) terdiri atas 5 langkah yang disebut sebagai 5 protokol hipnosis. Kelima tahapan tersebut adalah (1) prainduksi, (2) induksi, (3) pendalaman, (4) sugesti pascahipnosis, dan (5) terminasi.

Prainduksi adalah tahapan dimana Anda mempelajari latar belakang klien yang akan dihipnotis termasuk membangun keakraban dan rasa saling percaya antara Anda dan klien Anda. Jika sang klien ragu atau tidak percaya kepada Anda, maka dia akan bersifat protektif dan tidak terbuka. Jika sang klien bersifat protektif, pikiran bawah sadarnya akan membangun mental block; pikiran analitik dan kritisnya akan bangkit sehingga sang klien akan sulit memasuki kondisi trance. Termasuk dalam tahapan pra-induksi ini Anda mengumpulkan informasi untuk menetapkan teknik induksi yang cocok untuk klien tersebut. Kata kunci pada bagian ini adalah pre-induction dan critical factor.

Induksi adalah tahapan dimana Anda menggiring sang klien memasuki kondisi hipnosis sebagaimana telah kami paparkan sebelumnya. Kata kuncinya adalah induction techniques.

Pendalaman adalah tahapan dimana Anda menggiring sang klien untuk memasuki kondisi hipnosis yang lebih dalam. Trance memang bertingkat-tingkat dan semakin dalam kondisi trance maka semakin efektif pula hipnosis. Ada empat kondisi atau tingkat kesadaran, yakni: beta, alpha, theta, dan delta. Kondisi hipnosis adalah kondisi alpha dan theta. Kondisi alpha terdiri atas kondisi trance ringan (induksi membawa klien ke level ini) dan kondisi trance menengah. Sementara itu, kondisi theta adalah kondisi trance dalam. Tidak semua klien harus digiring ke kondisi theta terkecuali untuk kebutuhan terapi. Anda harus mempelajari teknik-teknik pendalaman ini agar bisa menggiring sang klien menuju kedalaman trance yang dibutuhkan. Anda pun dapat mengevaluasi kedalaman trance yang telah dicapai oleh klien melalui gejala-gejala motorik. Kata kunci pada bagian ini adalah deepening technique dan trance levels.

Sugesti pascahipnosis adalah sugesti yang ditanamkan di dalam pikiran bawah sadar ketika sang klien sudah mencapai kedalaman trance yang sesuai. Disebut sugesti pascahipnosis karena sugesti tersebut diharapkan dapat berfungsi setelah sang klien keluar dari kondisi hipnosis. Anda perlu belajar menyusun sugesti yang efektif dan efisien agar sugesti tersebut dapat berfungsi dengan baik. Kata kunci pada bagian ini adalah post-hypnotic suggestion dan hypnotic language patterns.

Terminasi adalah tahapan dimana Anda menggiring sang klien untuk keluar dari kondisi trance. Terminasi adalah lawan dari induksi. Terminasi sangat penting karena Anda tidak ingin sang klien mengalami gejala mental atau psikosomatis yang tidak diinginkan. Sugesti-sugesti yang digunakan untuk menginduksi dan memperdalam kondisi trance atau mengelola konten pikiran bawah sadar saat sesi hipnosis dilakukan tidak lagi dibutuhkan saat si klien keluar dari kondisi tersebut. Artinya, sugesti yang harus tertanam (tidak dicabut) hanyalah sugesti pascahipnosis saja. Jika sugesti-sugesti lainnya masih ada dalam pikiran bawah sadar (tidak dinetralisir terlebih dahulu), maka sang klien bisa mengalami gejala-gejala mental yang tidak diharapkan. Oleh karena itu, terminasi berisi sejumlah kegiatan “pembersihan” pikiran bawah sadar klien dari sugesti-sugesti (disebut rutin) yang sudah tidak dibutuhkan lagi. Pada tahapan ini, Anda juga perlu “mengembalikan” pikiran analitik-kritis sang klien, mengaktifkan lagi otot-otot yang mengalami relaksasi dalam sesi hipnosis yang Anda lakukan agar sang klien bisa bugar kembali. Kata kunci dalam bagian ini adalah termination.

Etika Hipnosis

Hal penting lainnya untuk dipelajari adalah etika seorang hipnotis. Hipnosis hanya diperbolehkan untuk tujuan-tujuan yang memberikan manfaat bagi klien. Banyak kejahatan berkedok hipnosis telah terjadi dimana-mana karena orang-orang salah menggunakan ilmu yang mereka miliki.

Perlu diketahui bahwa hipnosis juga terdiri atas overt hypnosis dan covert hypnosis. Overt hypnosis adalah hipnosis konvensional dimana sang klien biasa diminta untuk menutup matanya seolah-olah tidur (hipnosis bukan tidur!) sementara covert hypnosis adalah proses hipnosis dalam percakapan (seringkali disebut conversational hypnosis). Tidak ada perbedaan protokol dalam kedua jenis hipnosis ini namun teknik yang digunakan dalam setiap tahapan protokol memiliki perbedaan.

Demikian ulasan singkat mengenai pembelajaran hipnosis ini. Semoga bermanfaat.

Catatan: Anda boleh mempelajari hipnosis melalui kegiatan pelatihan hipnosis maupun secara otodidak. Kami sarankan untuk menggabungkan kedua teknik pembelajaran ini. Anda masih membutuhkan seorang guru setidaknya untuk membicarakan solusi bagi masalah teknis yang Anda hadapi di lapangan. Selain itu, Anda hanya bisa melakukan terapi berbasis hipnosis jika Anda memiliki sertifikat sebagai seorang hipnoterapis. Hipnosis mudah dipelajari, namun hanya pengalaman yang bisa membuat Anda menguasainya.

Tinggalkan Komentar