Pada masyarakat Jawa modern, Kerokhanian Sapta Darma adalah salah satu representasi dari Kejawen. Bagi warganya, Sapta Darma bukan semata suatu ajaran dan praktik spiritual Ketuhanan Yang Maha Esa yang bersumber pada kearifan lokal masyarakat Jawa. Ia juga merupakan identitas kultural dan identitas spiritual Kejawaan yang terus-menerus diperjuangkan untuk mendapatkan independensi identitasnya. Menjadi Jawa dengan cara Sapta Darma sangat penting untuk dipertahankan dan diwariskan kepada generasi penerus. Dalam pewarisan tersebut, orang tua mengenalkan dimensi ideologi/keyakinan, dimensi pengetahuan ajaran, dimensi ritual/ibadah dan dimensi pengalaman ritual serta dimensi konsekuensi identitas agama Sapta Darma kepada anak-anak. Proses regenerasi dilakukan dalam tindakan langsung transfer pengetahuan dari orang tua kepada anak serta tindakan tidak langsung mengajak anak berpartisipasi dalam setiap kegiatan di sanggar tempat ibadah Sapta Darma (sanggaran). Remaja Sapta Darma dituntut untuk mengenal ajaran agamanya, melakukan ritual-ritual Sapta Darma, serta menemukan legitimasi kebenaran ajarannya secara mandiri. Organisasi remaja merupakan ruang untuk mengenal ajaran, membangun lingkungan (relasi) sosial dengan sesama penghayat Sapta Darma yang sebaya, serta menguatkan kepercayaan diri atas pilihan identitas spiritual mereka sebagai Sapta Darma. Pengalaman sujud menjadi alasan utama generasi muda menetapkan diri sebagai penghayat Sapta Darma. Ia bertindak sebagai semacam pembuktian dari kebenaran ajaran Sapta Darma, serta memberikan pengetahuan yang nyata (makna) tentang apa, siapa dan bagaimana menjadi manusia. Sebagai konsekuensi atas pilihan (identitas) spiritualitasnya, generasi muda Sapta Darma melakukan resistensi dan negosiasi dalam lingkungan sosial. Dari proses ini, remaja Sapta Darma tetap dapat menjadi penghayat Sapta Darma meski situasi dan kondisi sosial waktu itu belum kondusif bagi mereka. Proses transmisi pengetahuan oleh penghayat, apopriasinya oleh remaja, serta resistensi dan negosiasi yang dilakukan remaja dalam proses regenerasi telah berhasil melanjutkan eksistensi Kerokhanian Sapta Darma dan melestarikan ajaran Kejawen di Jawa pada saat ini.